Bukan Sekadar Angka: Membaca Wajah 1.414 Desa di Provinsi Jambi
Potret 1.414 Desa di Jambi: Potensi Besar, Tantangan Nyata, dan Harapan Desa Masa Depan
JAMBI — Sebanyak 1.414 desa di Provinsi Jambi menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar angka. Di balik data desa, terlihat potensi ekonomi yang beragam, akses internet yang semakin luas, sekaligus tantangan serius dalam pengelolaan lingkungan, kebencanaan, dan penguatan kelembagaan masyarakat.
Data yang dihimpun dari desa-desa di Provinsi Jambi memberikan gambaran menarik tentang kondisi pembangunan desa saat ini. Data tersebut bukan hanya menjadi kumpulan angka, tetapi dapat menjadi pijakan penting untuk menentukan arah pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Internet Menjangkau Mayoritas Desa
Salah satu gambaran positif terlihat dari akses internet. Dari 1.414 desa yang terdata, 1.306 desa atau sekitar 92,4 persen telah memiliki akses internet.
Angka ini menunjukkan bahwa konektivitas digital semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat desa. Internet membuka peluang yang lebih besar bagi desa untuk mengembangkan pelayanan publik, pemasaran produk unggulan, pendidikan, informasi, hingga pengembangan ekonomi digital.
Namun, masih terdapat 107 desa yang tercatat belum memiliki akses internet. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah agar transformasi digital desa tidak meninggalkan wilayah yang masih menghadapi keterbatasan konektivitas.
Sampah: Antara Kesadaran dan Kelembagaan
Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian penting. Data menunjukkan 682 desa belum memiliki kelembagaan pengelolaan sampah yang memadai, sementara sebagian lainnya telah mulai membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), bank sampah, TPS3R maupun unit usaha lainnya.
Menariknya, 728 desa atau sekitar 51,5 persen telah melakukan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah.
Namun demikian, masih ada 668 desa yang belum melakukan kegiatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, hanya 54 desa yang tercatat memiliki BUMDes dengan unit usaha pengelolaan sampah. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi BUMDes untuk mengambil peran lebih besar dalam menciptakan ekonomi sirkular di desa.
Banjir Menjadi Ancaman Utama
Dari sisi kebencanaan, banjir menjadi bencana yang paling banyak disebut oleh desa, dengan 729 desa atau sekitar 51,6 persen mencatat banjir sebagai salah satu bencana yang sering terjadi.
Selain banjir, terdapat desa yang menghadapi kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga angin puting beliung.
Yang menjadi perhatian adalah kesiapan desa dalam menghadapi risiko tersebut. Baru sekitar 36,6 persen desa yang tercatat telah memiliki pemetaan risiko bencana. Bahkan, desa yang memiliki Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) baru sekitar 18,5 persen.
Artinya, masih terdapat pekerjaan besar untuk memperkuat kesiapsiagaan desa. Bencana tidak cukup hanya ditangani ketika sudah terjadi. Desa perlu memiliki peta risiko, kelembagaan, sarana prasarana, regulasi, sistem informasi darurat, serta perencanaan anggaran yang jelas.
Potensi Ekonomi Desa: Dari Pertanian hingga Perkebunan
Di tengah berbagai tantangan tersebut, desa-desa Jambi menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar.
Data menunjukkan berbagai potensi unggulan desa, terutama sektor pertanian, perkebunan, padi, kelapa sawit, peternakan, perikanan dan berbagai produk lokal lainnya.
Potensi tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat ekonomi desa. Tantangannya adalah bagaimana potensi yang selama ini bersifat lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki akses pasar yang lebih luas.
Di sinilah peran BUMDes, kelompok masyarakat, pemerintah desa, pendamping, serta berbagai pihak terkait menjadi sangat strategis.
Desa Inklusif Masih Membutuhkan Penguatan
Pembangunan desa juga harus memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal.
Namun data menunjukkan baru 235 desa atau sekitar 16,6 persen yang tercatat memiliki regulasi Desa Inklusif. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan kebijakan dan kelembagaan agar perempuan, pemuda, penyandang disabilitas, kelompok rentan, anak dan kelompok masyarakat lainnya semakin mendapatkan ruang dalam proses pembangunan desa.
Data Bukan Sekadar Angka
Jika dibaca secara keseluruhan, data 1.414 desa di Jambi memperlihatkan sebuah pesan penting: desa memiliki potensi yang besar, tetapi masih menghadapi pekerjaan rumah yang tidak sedikit.
Internet telah menjangkau mayoritas desa. Potensi ekonomi tersedia. Berbagai organisasi masyarakat telah tumbuh. Namun pengelolaan sampah, mitigasi bencana, kelembagaan, regulasi dan pembangunan inklusif masih perlu terus diperkuat.
Karena itu, data desa seharusnya tidak berhenti sebagai laporan atau angka statistik. Data harus menjadi kompas pembangunan—menunjukkan desa mana yang membutuhkan perhatian, sektor mana yang harus diperkuat, dan potensi apa yang dapat dikembangkan.
Dengan data yang akurat dan pemanfaatan yang tepat, pembangunan desa di Provinsi Jambi dapat bergerak dari sekadar membangun infrastruktur menuju membangun kemandirian, ketahanan, dan kesejahteraan masyarakat desa.
1.414 desa bukan sekadar angka. Di dalamnya ada 1.414 cerita, potensi, tantangan dan harapan untuk masa depan Jambi.
Sumber data dan Informasi bidang Pengembangan Sosial Budaya tahun 2026,
Jasmani
TAPM.Prov.Jambi

Komentar
Posting Komentar